WAY OF LIFE DAN KETELADANAN PAPA-MAMA


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Waktu Papa dan Mama masih hidup, mereka selalu mengajarkan pada kami—kakak beradik—agar selalu menghabiskan makanan yang sudah kami ambil. Nasi jangan sampai tersisa sebutir pun. Menurut papa dan mama, kasihan petani telah bekerja keras untuk menghasilkan beras sehingga kami harus menghargai pengorbanan mereka.

Di samping itu, papa dan mama bercerita tentang zaman peperangan dan penjajahan Jepang. Ketika itu, merupakan pemandangan sehari-hari mayat bergelimpangan di jalanan, banyak orang kelaparan dan mati kelaparan. Adalah jamak orang-orang makan gaplek karena beras tidak cukup tersedia bagi rakyat. Padahal gaplek pada keadaan normal digunakan sebagai makanan ternak babi.

Kondisi tersebut semakin mencekam karena seringkali pesawat meraung-raung di udara menjatuhkan bom. Sirene dibunyikan pertanda bagi rakyat untuk segera menyelamatkan diri.

Karena cerita-cerita itulah kami selalu menghabiskan makanan yang sudah kami ambil. Tapi jangan salah, kami tidak diajarkan untuk serakah.

Sejak kecil, kami kakak beradik senantiasa diajarkan untuk ingat saudara dan ingat orang lain. Dalam kehidupan sederhana keluarga, kami kakak beradik selalu berbagi makanan dengan rata dan tidak memakan yang bukan menjadi bagian kami. Kami hanya memakan yang menjadi bagian kami.

Keluarga kami pun mempunyai hubungan yang baik dengan para tetangga. Kami bergaul dan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan terutama dalam bidang olahraga baik sepakbola, volley maupun catur.

Waktu kecil saya dan kakak-kakak berbaur dan bermain bersama dengan tetangga. Bermain perang-perangan, mobil-mobilan, gambar, kelereng, sepeda, lompat tinggi, congklak, pecle, berburu di sawah dan banyak aktivitas bermain lainnya adalah kegiatan yang kami lakukan sehari-hari. Setiap perayaan kemerdekaan kami pun merayakan bersama tetangga baik malam kesenian, lomba lari, catur, kenduri di rumah dan lain-lain.

Saat ada tetangga yang menikah atau berduka, mama, papa, dan atau kami tentu menyediakan waktu untuk hadir agar dapat mengucapkan selamat dan berbela sungkawa.

Merupakan hal lazim bila ada tetangga terluka atau terkilir datang kerumah untuk meminta obat atau minta diurut. Kebetulan papa mempunyai beberapa obat hasil meracik sendiri. Papa dan kakak paling besar bisa mengurut, membetulkan urat atau tulang yang salah letak.

Tak mengherankan bila kami sekeluarga bergaul erat dengan para tetangga. Saling tolong menolong dan bergotong royong adalah keseharian kami.

Karena hubungan kami yang begitu baik, para tetangga tak sungkan untuk menolong keluarga kami saat kami dalam kesulitan. Misalnya saat kerusuhan etnis tahun 1973 di Bandung, para tetangga menjaga rumah kami. Saat kami semua sudah menikah dan rumah papa mama hanya tinggal ditinggali oleh kakak perempuan, bila terjadi kebocoran atau apapun yang biasa dikerjakan oleh laki-laki, tetangga kami tak sungkan membantu. 

Begitulah, kebaikan mengundang kebaikan. 

Kebajikan pasti beroleh tetangga.

Pendidikan dan keteladanan orang tua pada masa kecil dan remaja ini saya tuliskan karena begitu berkesan dan mengandung nilai-nilai kemanusiaan serta kesusilaan yang perlu digalakkan kembali. Sekarang nilai-nilai ini tampak semakin pudar digantikan dengan egoisme, eksklusivitas, sektarianisme bahkan segregasi sosial.

Apa yang diteladankan oleh orang tua dan kami praktikkan dalam kehidupan kami terbukti sangat luar biasa dalam hubungan dengan sesama manusia. Sikap demikian adalah modal dasar yang sangat bernilai untuk kita hidup dimanapun.

Itulah tingkah laku yang diajarkan dan diteladankan oleh Zhisheng Kongzi dan menjadi way of life orang-orang Tionghoa zaman dulu sehingga mereka dapat hidup di mana pun.

Zi Zhang bertanya bagaimanakah layak tingkah lakunya.

Nabi bersabda, "Perkataanmu hendaklah kau pegang dengan satya dan dapat dipercaya; perbuatanmu hendaklah kau perhatikan sungguh-sungguh. Dengan demikian di daerah Man dan Mo pun, tingkah lakumu dapat diterima. Kalau perkataanmu tidak kau pegang dengan satya dan dapat dipercaya, perbuatanmu tidak kau perhatikan sungguh-sungguh, sekalipun di kampung halaman sendiri mungkinkah dapat diterima?"


Satu hal yang juga senantiasa diteladankan oleh papa dan mama adalah shu (rasa empati, tenggang rasa dan tepasalira). Saat tetangga atau ada orang yang sedang kesusahan, siapapun dia, tanpa ragu papa dan mama memberi bantuan. Namun demikian papa dan mama tidak pernah meminta balasan apapun. Papa menolong orang dari golongan, suku, etnis atau agama apapun dengan tulus, tak ada permintaan balasan atau memaksakan keyakinan agama pada mereka yang ditolong.

Shu, 'Apa yang diri sendiri tiada inginkan, tidak diberikan pada orang lain' begitu melekat dan mendarah daging pada papa dan mama. Mereka banyak mengalah, tak mau merugikan orang lain, tak mau menang sendiri apalagi memaksakan kehendak.

Pengajaran agama dan budi pekerti memang sangat efektif dengan perilaku dan keteladanan, bukan dengan kata-kata berbunga yang hanya enak didengarkan tapi sebetulnya miskin makna bila tanpa kesesuaian dengan perilaku. Tindakan itu lebih bersuara nyaring dari perkataan.

Apa yang papa dan mama teladankan masih tertanam kuat bukan saja pada kami anak-anaknya hingga kini, tapi juga pada tetangga dan orang-orang yang pernah berhubungan dengan papa dan mama.

Tak mengherankan setiap kami berkunjung ke rumah orang tua hingga kini puluhan tahun kemudian, kami tetap saling menyapa ramah dengan tetangga. Hubungan kami sangat baik dengan mereka.

Bonusnya, walaupun kosong, rumah orang tua saya mendapat penjagaan gratis dari tetangga tanpa diminta.

Dalam situasi pandemi seperti ini, nilai-nilai yang sama tampaknya menjadi pilihan bijak untuk dilakukan.

Nilai-nilai ini pula yang saya pegang dan laksanakan di rumah milik pribadi di Jakarta dan Bekasi. 

Hasilnya ternyata sama.

Anda tidak percaya? 

Buktikan sendiri! (US) 04062021

Lunyu XV: 6, Lunyu XII: 2, Lunyu XV: 24, Lunyu IX: 14.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU