KITA DAN RAMALAN


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

"Setelah ketenangan ini datang, dan itu pasti, sebuah agama baru akan lahir, agama tentang kehidupan, bukan tentang kematian; agama yang akan membantu orang hidup juga mati; agama yang para pengikutnya akan menyembah lewat semangat dan tindakan dalam bentuk memberikan layanan bermanfaat satu sama lain, bukan menyembah arwah leluhur; sebuah agama yang para pemimpinnya akan mengajarkan kasih dan keindahan usaha kerja sama antar orang, bukan ketakutan dan takhayul ..."


Pernyataan berbentuk 'ramalan' di atas ditulis oleh Napoleon Hill pada saat depresi hebat melanda Amerika Serikat (dan dunia?) tahun 1930-an dan dapat kita baca dalam buku How To Sell Your Way Through Life yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi buku Rahasia Sukses Menjual (2019).

Apakah 'ramalan' tersebut terbukti? Silakan Anda baca kembali dan bandingkan dengan situasi sekarang hampir seratus tahun kemudian.

"Ramalan" seperti ini banyak ditulis dari masa kemasa. Sebut saja kita mengenal tokoh Joyo Boyo atau Nostradamus yang hingga hari ini ramalannya—masih banyak dipercaya orang—sangat jitu.

Beberapa kitab suci juga memuat ramalan dan nubuat. Pada masa kuno ramalan dengan menggunakan rumput shi dan tempurung kura-kura lazim dilakukan oleh para penguasa berbagai dinasti atau raja muda di Tiongkok saat akan melakukan suatu misi, misal akan melakukan peninjauan ke pelosok negeri atau berperang atau mencari pengganti, dan lain-lain.

Kalau kita membaca teks-teks dalam Sishu Wujing, kita akan mendapatkan tulisan tentang 'ramal meramal'. Baca saja misalnya sepuluh sayap dalam Yijing, Kitab Liji, Shujing, Shijing, Chunqiu Jing atau Sishu.

Pada masa modern ramalan mengenai masa depan dilakukan oleh para futuris seperti Alvin Toffler dan John Naisbitt. Ramalan dilakukan pula oleh Ahli Politik Amerika Serikat Samuel P. Huntington dengan bukunya yang berjudul Clash of Civilization pernah menggegerkan dan menjadi perbincangan dunia. Yang terbaru, ahli sejarah dari Israel Yuval Noah Harari menulis dua buku Best Seller "Sapiens" dan "Homo Deus" meramalkan kepunahan Homo Sapiens dan Liberalisme oleh Algoritma yang dimanifestasikan dalam Artificial Intelligence (AI). Dengan adanya AI banyak pekerjaan yang akan hilang dan di dunia akan banyak orang-orang yang irrelevant karena tak lagi dapat bekerja. Pemilihan umum demokrasipun menjadi usang. 

Membaca buku-buku ramalan seperti ini pada akhirnya menempatkan kita pada pilihan apakah mempercayainya atau tidak.

Yang terpenting bagaimana kita bertindak setelah membaca ramalan tersebut. Apakah kita pasrah dipenuhi ketakutan atau optimisme berlebih dan mengharapkan keajaiban? Ataukah kita terus melangkah dan menatap masa depan dengan sikap mental positif sambil berbenah diri.

Bukankah perubahan yang terjadi di dunia ini seringkali tak terduga dan kadang berbeda dengan apa yang diramalkan karena kondisi-kondisi tak terduga yang membelokkan arah masa depan?

Catatan sejarah memberi petunjuk pada kita mengenai hal tersebut.

Pada akhirnya walau kita tak dapat mengelak dari takdir, kita mempunyai kontribusi dalam menentukan nasib kita sendiri. 

Apakah akan tergerus arah perubahan atau survive dan berkembang maju. (US) 25082021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN