PERASAAN MANUSIA


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Di suatu sore sekira pukul 15.00, tanggal 28 Agustus, beberapa tahun yang lalu ...

"Koko ada undangan."

"Undangan apa? Koko mau datang?"

"Ya mau datang. Gak enak kalau gak datang"

Pikir A ini cuma candaan saja dari U di hari ulang tahunnya. A meneruskan pekerjaannya agar nanti dapat pulang tepat waktu.

Pkl 16.30, BBM (Blackberry Messenger—aplikasi pesan) masuk.

"Otw."

"Otw kemana?"

"Kan Koko sudah bilang."

Hening. Sambil pikiran berkecamuk dan heran dari A. Tapi dalam pikirannya ini mungkin sekedar candaan dan kejutan. A masih positive thinking.

Pukul 17.00 lewat tak ada pesan masuk. Ditunggu sampai pukul 17.30 hari hampir gelap. A mulai menduga ada yang tidak beres. Dengan hati mulai kesal A mengirim BBM.

"Koko tuh sebetulnya otw kemana?"

"Kan Koko sudah bilang," sambil mengirimkan foto undangan pakai BBM.
 
"Koko tuh lupa ya sekarang hari apa?"

Diam sejenak.
 
Tidak beberapa lama kemudian telepon berdering.
 
Telpon tidak diangkat.

"Enggak, enggak lupa. Sudah mau pulang?"

BBM tidak dibalas.

Telepon A kembali berdering.
 
"Kalau mau nanya sudah mau pulang sih dari jam 5, ini sih sudah di-BBM begitu baru nanya. Lupa kan?"

"Enggak. Enggak lupa."

"Sudah lah enggak usah ngeles melulu."

"Ya sudah. Koko jemput ya?"

Kejadian beberapa tahun yang lalu begitu berbekas di hati A terutama saat-saat memasuki bulan Agustus. Air mata menggenang di pelupuk mata A setiap mengingat peristiwa ini.

Itulah kesalahan besar yang pernah saya lakukan pada pacar saya di hari ulang tahunnya.

Salah satu konsekuensi sebagai seorang pemimpin organisasi keagamaan. Undangan datang silih berganti hampir setiap hari. Beberapa undangan bersamaan dan perlu didelegasikan. Tapi ada beberapa undangan harus dihadiri sendiri entah untuk menjaga hubungan atau sebagai narasumber. Kesibukan dari pagi hingga malam hari adalah kegiatan rutin. Tak heran pikiran, perasaan dan energi cukup terkuras.

Bagaimanapun, kejadian tersebut merupakan kesalahan saya, bukan kesalahan jabatan atau kesalahan orang lain.

Banyak pelajaran yang saya petik dari kejadian tersebut. Ada hal-hal tertentu yang harus kita pilih sebagai prioritas utama, jangan sampai menorehkan luka pada orang-orang yang kita kasihi hingga lama.

Manusia bukan sekedar makhluk berpikir tapi juga berperasaan. Karena perasaan kita mencintai atau membenci seseorang. Gembira, marah, sedih, senang, benci merupakan ungkapan perasaan yang manusiawi. Perasaan bukan untuk dihilangkan tapi untuk dijaga pada batasnya.

Kita bisa belajar mengelolanya dengan upaya belajar dan membina diri secara sengaja. Dengan belajar dan membina diri diharapkan kita dapat menjaga hati dan menemukan cahaya kebajikan Tian sehingga perasaan dapat dijaga tetap dalam batas tengah sehingga harmonis.

Tanggal 28 Agustus 2021 A ulang tahun. Saya dapat merasakan luka itu masih berbekas. Masih berbekas karena dia mencintai saya. Walau kadang mengulang-ngulang cerita yang sama, sekarang A adalah istri saya.

Saya memperistri A tahun lalu dan A akan menjadi ibu dari anak kami dan ibu sambung dari tiga anak yang lain lebih karena perasaan bukan karena pikiran. Walau luka hati masih ada, nyatanya A mau saya peristri. Apakah karena pikiran? Saya rasa bukan.

Selamat ulang tahun Agnes, istriku. 

Semoga lima kebahagiaan selalu menjadi lajur yang kau tempuh. 

Tian merahmati dan melindungi.

Tian Bao. (US) 28082021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN