TANAH AIR MESTI DIJAGA


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, 
tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi. 
Bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi.

Begitulah tertulis dalam Kitab Mengzi IB: 15.3

Hari ini kita merayakan HUT kemerdekaan negara kita tercinta yang ke-76.

Kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan negara asing diraih dengan pengorbanan jiwa raga para pejuang kita. Sudah sepantasnya kita semua mengenang, menghargai, meneladani, dan meneruskan perjuangan para pahlawan kita.

Tentu saja perjuangan kita sekarang berbeda. Walau spirit-nya sama, kita tidak perlu mengangkat senjata seperti para pahlawan kita. Perjuangan kita adalah meraih kemerdekaan dari egoisme, fanatisme sempit, kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, ketidakberadaban, keterpecahbelahan. Meraih kemerdekaan dari COVID-19, hoax, kerakusan, dan ketidakpedulian.

Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri itulah yang perlu terus diupayakan. Berdikari bukan berarti kita menutup diri dari dunia luar, berdikari harus diartikan kita mulai mengutamakan mengkonsumsi hasil produksi dalam negeri. Mulai meningkatkan dan memperbaiki produksi dalam negeri, menunda impor yang sebetulnya dapat kita produksi sendiri. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan kita memproduksi sendiri. Kita bisa mencontoh negara-negara lain seperti Vietnam dan Tiongkok atau Selandia Baru dan Thailand yang berhasil mengembangkan produksi dalam negeri.

Gotong royong, bahu membahu bekerja sama. Upaya berdikari akan sulit tercapai tanpa gotong royong seluruh komponen bangsa. Pemerintah membuat kebijakan yang berorientasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat menunda keinginan sesaat yang tak terlalu penting. Penegakan hukum penting. Pembentukan karakter terlebih lagi. Hukum takkan dapat ditegakkan saat karakter baik tak termanifestasikan.

Pemberantasan korupsi harus berada dalam prioritas utama. Pembangunan dengan berdikari takkan terwujud dengan baik saat korupsi masih merajalela. Korupsi akan dapat diberantas saat karakter bangsa bersendikan Pancasila terwujud. Karakter baik akan terbentuk saat pendidikan bukan hanya berorientasi pada kepandaian di bidang iptek semata tapi juga pendidikan untuk meningkatkan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual serta tentu saja kesehatan fisik.

Pancasila sebagai spiritualitas, falsafah, dasar dan ideologi negara bukanlah mengarahkan pembangunan hanya pada sektor ekonomi (fisik) semata, kita sudah mahfum akan hal tersebut tapi sayangnya belum membumi, belum terimplementasikan dalam upaya pembangunan kita. Kita masih merasakan ketidak adilan, ketidak beradaban, keterpecahbelahan, kekeringan spiritual, keberpihakan bukan pada rakyat dan keputusan yang menguntungkan golongan tertentu, bukan bangsa.

Para pejuang kemerdekaan mengorbankan jiwa raga untuk meraih kemerdekaan. Kita sebagai generasi berikut yang mewarisi kemerdekaan perlu menjaga dan mewariskan dari generasi ke generasi, tak boleh meninggalkan bangsa dan negara dalam keadaan 'terjajah' karena kita lupa bahwa kepentingan bangsa dan negara berada di atas kepentingan diri, kelompok dan golongan. Kita tak perlu mati bersimbah darah untuk berjuang tapi kita perlu berjuang dengan sekuat daya upaya.

Kita tak boleh lupa, mengutamakan keuntungan pribadi dan kelompok bukanlah spirit yang diwariskan oleh para pejuang bangsa. Pada dasarnya perjuangan para pendahulu kita dan kita sebagai pewarisnya seyogianya menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Tanpa spirit itu, negara kita Indonesia akan hanya ada dalam catatan sejarah yang segera terlupakan.

Papa saya selalu mengatakan berjuanglah tanpa pamrih. Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Walau acap kecewa melihat kenyataan, nasihat itu selalu terngiang di telinga batin. 

Tapi sampai kapan? 

Apakah generasi berikut akan tetap sabar melihat kemunafikan yang ada? 

Semoga. 

Kita tak lagi punya waktu lama karena dunia bergerak demikian cepat dan individualisme semakin merebak. Kita mulai dari diri kita dan keluarga kita dengan mendidik dan meneladani keluarga pikiran terbuka,  karakter dan moralitas yang baik. 

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. (US) 17082021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN