ANDA PERCAYA MING?


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Menjadi seorang dosen apalagi dosen agama adalah salah satu hal tak terduga dalam kehidupan saya. Setelah lulus kuliah dari Universitas Parahyangan dan Universitas Padjadjaran di Bandung saya merantau ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja di sebuah perusahaan farmasi nasional. Setelah serangkaian proses tes dan wawancara saya ditawari menjadi Management Trainee. Saya menerima tawaran tersebut sehingga harus mengikuti beberapa tes lanjutan dan akhirnya lolos sebagai satu dari antara sembilan belas orang MT hasil penyaringan dari ribuan orang yang melamar.

Sebetulnya dua tahun sebelumnya saya pernah dipanggil pula untuk mengikuti tes psikologi dan wawancara dari perusahaan otomotif terbesar di Indonesia di sebuah hotel di Bandung. Konon ada ratusan orang dari berbagai universitas di Bandung ikut dalam seleksi tersebut. Ada dua orang yang lolos hingga tahap akhir salah satunya saya. Tahap terakhir seleksi tersebut adalah wawancara dengan wakil direktur HRD. Saya diterima. Hanya saja ketika itu kuliah saya di fakultas hukum Unpad belum selesai. 

Sebetulnya saya tidak keberatan untuk meneruskan kuliah di Jakarta. Namun Pak Wadir melarang karena menurut dia sayang meninggalkan fakultas hukum Unpad lalu kuliah di universitas swasta di Jakarta. Sebagai solusi dia menawarkan saya untuk dititipkan di sebuah dealer mobil di Bandung hingga lulus kuliah dan setelah itu baru bekerja di kantor pusat di Jakarta.

Saya katakan, nanti saya rembukkan dulu dengan keluarga. Lalu hari itu juga orang tua dan kakak kakak saya berembuk. Kesepakatannya adalah saya sebaiknya meneruskan kuliah hingga selesai terlebih dahulu.

Keesokan harinya saya sampaikan hasil rembukan tersebut kepada Pak Wadir. Pak Wadir memaklumi dan mendukung lalu memberi saya kartu nama dan menitip pesan agar setelah selesai kuliah menghubungi dia.

Nasib berkata lain seminggu setelah saya menandatangani kontrak dengan perusahaan farmasi saya baru dihubungi oleh perusahaan otomotif tersebut. Saya merasa tidak etis bila mundur dari kesepakatan yang saya tandatangani. Jadilah saya bekerja di perusahaan farmasi.

Sebagai seorang MT saya mendapat pendidikan selama sepuluh bulan dengan program setara Magister Manajemen melalui berbagai pendidikan dan pelatihan serta magang di berbagai perusahaan dalam satu grup untuk mendalami ilmu manajemen dan seluk beluk perusahaan. Utamanya untuk mendalami Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Manajemen Produksi, dan Manajemen Sumber Daya Manusia serta bidang lain seperti perpajakan.

Selanjutnya saya berkarir di bidang logistik perusahaan distribusi farmasi selama lebih kurang 3,5 tahun. Lalu saya diminta untuk bergabung ke sebuah perusahaan farmasi dalam grup yang sama di bidang marketing produk OTC (obat bebas) sebagai seorang Field Sales Manager membawahi tim promosi di berbagai cabang seluruh Indonesia. Selama lebih kurang delapan tahun saya menjadi orang pemasaran di dua perusahaan dalam grup tersebut. Selama berkarir di bidang marketing saya dipromosikan menjadi seorang Sales Manager, General Sales Manager dan Marketing Manager. Kemudian karena ketidakcocokan dengan atasan, saya mengundurkan diri. Selanjutnya selama tiga tahun saya berkarir di sebuah perusahaan sebagai seorang direktur pemasaran.

Jadi sebetulnya saya adalah seorang profesional. Nasib dan keinginan berbuat sesuatu untuk agama yang membawa saya berprofesi dosen tidak tetap agama Konghucu di berbagai universitas dengan honor seadanya bahkan tidak dibayar.

Setelah lebih dari sebelas tahun saya mengajar agama Konghucu tanpa terputus satu semester pun, mulai semester ini saya telah menyatakan mundur dari kegiatan mengajar sebagai dosen di Jakarta. Namun pandemi memundurkan keputusan tersebut. Sekarang saya masih mengajar agama Konghucu di tiga universitas secara online hingga semester ini.

Ada kejadian 'aneh'. Lebih kurang satu bulan yang lalu saya dihubungi oleh rekan yang pernah bekerja di perusahaan distribusi farmasi agar mau mengajar sebagai dosen luar biasa di universitas tempat sekarang dia bekerja. Alasannya karena saya pernah menjadi profesional di bidang pemasaran dan pengalaman tersebut sangat diperlukan untuk melengkapi pendidikan dan pengajaran di universitasnya. Saya bersedia membantu.

Beberapa hari kemudian saya dihubungi melalui whatsapp oleh tetangga saya, seorang dokter yang kebetulan menjadi pengurus dan mengajar di universitas tersebut. Pak dokter meminta kesediaan saya mendukung dan membantu universitas tersebut menjadi dosen tetap pada jurusan manajemen dan tentu saja sebagai dosen tetap, saya akan mendapat NIDN. Semua pembiayaan dan pengurusan NIDN ditanggung universitas. Saya bersedia selama tidak terikat rutinitas.

Bagi saya ini merupakan kejadian aneh yang berhubungan dengan ming

Mengajar selama sebelas tahun tak pernah beroleh NIDN karena universitas tempat saya mengajar tak pernah mau mengurus NIDN. Saat saya memutuskan berhenti mengajar dan mulai kembali aktif berbisnis paruh waktu, justru diminta bantuan menjadi dosen tetap dan memperoleh NIDN. 

Ada inkonsistensi dalam kebijakan pendidikan di Indonesia. Menjadi dosen agama sebagai Mata Kuliah Wajib yang diatur secara tegas oleh Undang-undang justru tak dihargai dengan sepantasnya baik status maupun penghasilan. 

Dalam kehidupan banyak kejadian tak terduga dan diluar rencana. Di awal karir, saya ikut test di dua perusahaan besar bukan karena mencari lowongan pekerjaan tapi mendapat undangan dari dua perusahaan tersebut untuk melamar. Saat masuk perusahaan lain saya juga tidak mencari tapi ditawari dan sedikit 'dipaksa' untuk menolong. Kejadian yang mirip saya alami sehingga menjadi dosen agama dan dosen tetap di jurusan manajemen. 

Anda percaya ming ? (US) 18092021


Catatan:
Ming 命 =  nasib, takdir, firman

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN