DEWAN KEHORMATAN


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Sepuluh tahun yang lalu saya memperoleh kepercayaan dan dilantik menjadi anggota ad hoc Dewan Kehormatan Daerah Perhimpunan Advokat Indonesia DKI Jakarta dari unsur tokoh masyarakat atau tokoh agama untuk mengemban tugas selama lima tahun.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat Konghucu menjadi seorang hakim ad hoc organisasi advokat yang ketika itu merupakan wadah tunggal para advokat di Indonesia.

Bersama para hakim lain dari unsur advokat, akademisi, dan tokoh masyarakat, sebagai salah seorang hakim anggota, saya menangani berbagai perkara dugaan pelanggaran kode etik advokat berdasar aduan berbagai pihak. Semua persidangan dilaksanakan berdasarkan hukum acara yang ada dan mengacu pada UU advokat dan kode etik advokat.

Dalam mengambil keputusan di samping berdasarkan bukti tertulis, rekaman, youtube, instagram, saksi fakta dan saksi ahli, yang tak kalah pentingnya berdasarkan suara hati nurani para hakim yang semuanya independen dan setara kedudukannya. Mekanisme musyawarah dilaksanakan dalam mengambil keputusan. Dalam beberapa kasus saya mengambil sikap dissenting opinion. Sikap berbeda dimungkinkan karena semua hakim independen, bebas, dan tak dapat ditekan oleh siapapun. Keputusan terberat yang bisa dan pernah diambil adalah pemecatan dari profesi advokat. Tak sedikit pula advokat yang bebas karena tidak terbukti melanggar kode etik.

Menjadi seorang hakim etik adalah salah satu bentuk pengabdian pada masyarakat, bukan profesi untuk memperoleh penghasilan untuk hidup. Hakim etik tidak mendapat gaji atau tunjangan tetap tapi mendapat uang transport dan honor tak seberapa bila kebetulan ditunjuk sebagai hakim.

Keliru besar bila mengharapkan penghasilan dari 'profesi' ini. Seorang hakim etik perlu menjaga integritas dan kehormatan diri. Tak boleh sekali-kali adanya konflik kepentingan dalam menangani perkara.

Jangan coba-coba menyuap hakim etik kalau tidak ingin hukuman diperberat.

Banyak pembelajaran, pengalaman dan kenangan yang didapat selama menjabat sebagai hakim etik. Bagi saya 'profesi' ini memperkaya kehidupan dan spiritualitas.

Pada tahun 2016 bersama 16 orang lainnya, saya dilantik kembali untuk lima tahun kedua. Pada tanggal 30 September 2021 kalau tidak ada kondisi luar biasa tertentu, saya akan mengakhiri pengabdian saya sebagai seorang hakim etik. Saya tidak bersedia diangkat kembali menjadi anggota Dewan Kehormatan Daerah Peradi. Saya lebih suka digantikan oleh orang lain dan saya sudah meminta Matakin untuk mencari pengganti agar perwakilan Konghucu tetap ada.

Bila teringat lebih dari 10 tahun yang lalu, Ws. Wawan Wiratma, Ketua Umum Matakin ketika itu berbulan-bulan kesulitan mencari orang yang mau menjadi anggota dewan kehormatan ini. Konon berbagai alasan dikemukakan. Pada dasarnya masalah keberanian, perasaan tidak mampu dan jam kerja yang menghalangi orang-orang mengemban amanah ini. Tidak mudah menjadi yang pertama memasuki rimba baru.

Sejak awal sebagai Wakil Ketua Umum, saya meminta Ws. Wawan Wiratma mencari orang lain karena saya sudah menduga menjadi hakim etik akan menjadi tugas rutin tambahan yang akan menyita waktu di hari kerja padahal banyak sekali kegiatan-kegiatan Matakin dan lintas agama yang telah banyak menyita waktu saya. Tapi apa daya akhirnya saya tak kuasa menolak tugas ini. Ws. Wawan Wiratma tak berhasil mendapat orang yang bersedia mengemban amanat ini. Ya bagaimana lagi kalau orang lain tidak mau, saya tidak rela posisi ini dibiarkan tak terwakili atau diisi oleh wakil agama lain.

Dalam suatu kesempatan setelah pelantikan Dewan Kehormatan Pusat (DKP) Peradi, Pak Gomar Gultom (ketika itu Sekum dan sekarang Ketum PGI) mengungkapkan keheranan karena saya sebagai Ketua Umum Matakin menjadi anggota DKD dan justru orang lain yang dilantik bersama dia menjadi anggota DKP mewakili Konghucu.

Tak usah heran, Pak. Pengabdian pada masyarakat itu bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja, yang penting dilakukan dengan kesungguhan hati dan penuh tanggung jawab.

Yang perlu kita khawatirkan justru saat kita menginginkan jabatan dan tanpa sadar kita tak lagi punya keberanian meninggalkan privilege itu lalu terhanyut di dalamnya.

Saya sekarang memilih untuk meninggalkan semua itu dan memulai perjalanan hidup yang baru agar hidup bertambah kaya dan tak terikat oleh satu kedudukan tertentu. Biarlah orang lain merasakan pula pengalaman tersebut. Saya merasa bersyukur dan terhormat menjadi orang pertama yang berani memasuki belantara baru. 

Ternyata dalam belantara kita menemukan banyak keindahan, bukan binatang buas yang ditakuti orang-orang yang menolak mengemban tugas pengabdian ini. (US) 10092021

Mengzi IIA: 2.22

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN