SISWA SEBAGAI PUSAT PEMBELAJARAN


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Beberapa tahun terakhir ini di Indonesia sedang diupayakan pendidikan dengan siswa sebagai pusat pembelajaran (Student Center Learning) menggantikan pendidikan dengan guru sebagai pusat pembelajaran.

Pada praktiknya perubahan ini tidaklah semudah diucapkan. Bertahun-tahun berlalu, pembelajaran di banyak mata pelajaran masih saja guru sebagai pusat pembelajaran. Guru-guru tidak siap, murid-murid tidak siap, buku-buku penunjang pun tidak siap. Hal utama yang menjadi tujuan pembelajaran SCL adalah bangkitnya kehausan siswa akan pengetahuan sehingga dia terus merasa tertantang untuk mencari dan menggali sumber pengetahuan, bukan dicekoki oleh guru. Guru menjadi fasilitator.

Sebagai fasilitator tentu saja guru bukan membiarkan siswa tidak terarah dalam pembelajaran dan tidak menguasai materi. Guru perlu mampu menjadi pemicu gairah siswa untuk belajar, mencari, menganalisa, mensintesis, berdiskusi. Bila masih ada yang belum tepat, guru perlu mengarahkan agar siswa kembali mencari sumber yang tepat sesuai tujuan dan capaian pembelajaran. Pembelajaran SCL tidak sekali-kali menjadikan guru membiarkan siswa belajar sendiri tanpa arah yang jelas.

Bagi umat Konghucu, proses pembelajaran seperti ini sebetulnya telah diteladankan dalam Kitab Suci. Kita dapat membaca dalam teks Kitab Suci, Nabi berdiskusi dengan murid-muridnya dan mendorong para murid menggali potensi diri dan menggali pengetahuan serta pengertian bukan sekedar berceramah mengajari. 

Dalam proses pembelajaran ini Nabi memberi keteladanan sikap dan kesempatan seluas-luasnya pada para murid untuk mengemukakan pendapat dan berbeda pendapat untuk kemudian mengarahkan pada inti hakikat pengetahuan. Para murid tidak perlu berpendapat sama. Kita bisa membaca dalam teks Kitab Suci, Nabi memberikan jawaban berbeda pada murid yang satu dengan lainnya, misalnya dalam menjawab tentang Cinta kasih atau kesusilaan. Kita  melihat para murid pun dimungkinkan mempunyai pandangan sendiri.

Menjadi seorang guru yang mampu memberi keteladanan sikap dan semangat serta memberi kesempatan seluas-luasnya pada siswa sambil terus mengarahkan pembelajaran agar tidak menyimpang dari tujuan dan capaian pembelajaran tidaklah semudah kelihatannya. Perlu kesabaran, kerendahan hati dan kemampuan untuk menghargai disamping tentu saja ilmu yang mencukupi agar pembelajaran dapat berada pada arah yang tepat. 

Liji XVI, Xue Ji I: 13 memberi gambaran pendidikan yang baik yaitu menimbulkan keharmonisan, memberi kemudahan, dan menjadikan orang berpikir.

Dalam proses pembelajaran dibuka seluas-luasnya bagi siswa untuk melakukan kekeliruan. Dengan kekeliruan justru siswa akan banyak belajar. Kekeliruan itu manusiawi. Seorang guru perlu mendorong siswa mempunyai mindset tumbuh. Dengan mindset tumbuh siswa akan menjadi orang yang tangguh dan tidak mudah jatuh terkapar karena kekeliruan. Bila mengalami kekeliruan yang berujung kegagalan siswa justru banyak belajar sehingga bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik. 

Setelah mengalami kegagalan dan melakukan kekeliruan, siswa dengan mindset tumbuh tidak serta merta mencari kambing hitam dan pembenaran diri atas kekeliruan dan kegagalannya namun merasa gembira karena memperoleh pengalaman berharga dan kemudian berproses menjadi lebih baik. 

Proses tidak kalah pentingnya dengan hasil.

Hasil yang lebih baik tidak terlepas dari proses. Ada keasyikan sendiri dalam menjalani proses.

Tak heran bila kita membaca teks-teks Kitab Suci dan catatan sejarah, upaya pembaharuan dan pembinaan diri menjadi pusat ajaran Konghucu. Memang pada dasarnya umat Konghucu berpusat pada proses menjadi seorang junzi. Agama Konghucu tidak terlalu membahas apa yang akan dicapai tapi mengapa dan bagaimana menjadi orang yang paripurna. 

Keparipurnaan seseorang pada dasarnya berada pada semangat dan proses menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, pada semangat dan proses pembaharuan dan pembinaan diri: spirit seorang junzi. Tak heran seorang junzi selalu menuju ke atas, menjadi lebih baik dari hari ke hari bukan beku dalam satu tahapan atau menjadi lebih buruk menuju ke bawah seperti seorang xiao ren atau rendah budi.

Carol S. Dweck dalam buku best seller 'Mindset' berulang-ulang mengatakan bahwa seorang dengan mindset tumbuh berbeda dengan seorang dengan mindset tetap. Seorang dengan mindset tumbuh terus bertumbuh menjadi lebih baik kendati mengalami kegagalan dan kepahitan dalam hidup dan karirnya. Seorang dengan mindset tetap seringkali terjatuh dan tak mampu bangkit memenuhi potensi dirinya, karena bagi dia kekalahan dan kegagalan adalah aib dan kelemahan diri tak termaafkan, yang disebabkan oleh orang lain atau penyebab lain yang tak bisa diperbaiki, dia berpandangan upaya perbaikan tak perlu dilakukan oleh seorang genius atau seorang dengan bakat alami tertentu.

Tak mudah mendidik murid menjadi seorang dengan mindset tumbuh karena kita sendiri pun seringkali tanpa sadar bermindset tetap karena pendidikan yang kita terima selama ini baik di rumah, di sekolah maupun dalam masyarakat.

Perlu upaya ekstra agar Student Center Learning dapat berjalan dengan baik. (US) 21092021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN