BERSEMBAHYANG, BERDOA, DAN BERIKHTIAR


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

"Wah, bayinya belum turun ke panggul dan mulut rahim masih kaku. Anaknya besar. Nanti hari Sabtu tanggal 9 Oktober kamu PCR."

Dokter menyuruh suster untuk membuat surat pengantar PCR.

"PCR tuh apa, Dok?" saya sedang kurang connect sehingga menanyakan mengenai PCR.

Padahal PCR adalah istilah yang sering kita dengar belakangan ini, yaitu salah satu tes COVID-19.

Tes PCR merupakan salah satu persyaratan yang harus diikuti oleh ibu hamil yang akan menjalankan operasi caesar pada masa pandemi ini.

"Nanti Senin tanggal 11 kalian datang lagi ke sini untuk menentukan tanggal operasi caesar, mungkin besoknya," kata dokter melanjutkan.

Kami berdua saling berpandangan nanar tidak percaya. Air mata menggenang di pelupuk mata istri saya.

"Saya ingin melahirkan normal, Dok," istri dengan lirih berkata.

"Ya, bagaimana lagi pemeriksaan medis tidak mendukung kelahiran normal. Keyakinan pada Tuhan dan harapan harus didukung juga oleh data medis," ujar dokter mencoba menjelaskan.

Suster mencoba menguatkan dengan pengalaman pribadinya. Dia dulu ingin melahirkan normal tapi akhirnya caesar karena ada masalah dalam kandungannya.

Kami menatap dokter dan suster sambil berkata, "Kan masih ada Tuhan?"

Suster tersenyum pasrah, "Mudah-mudahan ada mukjizat ya."

Kami berdua tetap berkeyakinan anak kami akan dilahirkan normal, tidak melalui caesar. Dengan rahmat Tian, penyertaan shen, dan restu orang tua dan leluhur apa yang dianggap tidak mungkin akan menjadi kenyataan.

Dalam hati saya mengatakan, saya dan istri masih punya waktu empat hari untuk melakukan apa yang perlu dan bisa dilakukan agar istri melahirkan normal.

Sebetulnya telah lebih kurang dua minggu, sejak usia kandungan 37 minggu kami memperbanyak jalan agar bayi turun ke panggul. Nampaknya upaya kami belum membuahkan hasil hingga usia kandungan memasuki 39 minggu.

Maka empat hari ke depan kami akan meneruskan aktivitas jalan kaki sambil mengajak bayi dalam kandungan untuk turun ke panggul. Setiap hari kami selalu berjalan kaki lebih dari 10 ribu langkah, bahkan 14 ribu langkah kami lahap dengan penuh semangat. Pada titik ini isteripun mulai melakukan senam mengikuti arahan youtube. 

Satu hal yang jadi andalan kami setelah mendengar saran dokter adalah bersembahyang dan berdoa memohon bantuan dan restu orang tua dan leluhur, penyertaan para shen dan tentu saja rahmat dan berkah Tian agar kelahiran dapat berjalan baik dan lancar dengan normal. Setiap sembahyang kami tempatkan air dalam botol dengan dibuka tutupnya, untuk nanti diminum dan disiramkan pada perut istri.

Pada hari Sabtu tanggal 9 kami tidak melaksanakan PCR. Dalam pikiran saya, kami membeli waktu. Senin tanggal 11 kami akan datang. Kalau hasilnya masih mesti caesar, kami bisa mundurkan jadwal caesar beberapa hari karena kami baru tes PCR. Sambil tetap berharap ada perkembangan menuju persalinan normal.

Hari Senin dilakukan pemeriksaan, ternyata mulut rahim telah lunak, artinya dimungkinkan lahir normal, pembukaan satu. Dokter dan suster tersenyum semringah, kami pun merasa lega. Mukjizat telah kami dapatkan.

"Nanti Kamis tanggal 14 kalian datang lagi ya buat cek up. Kita tunggu sampai tanggal 17, kalau sampai tanggal 17 belum mulas, kita lakukan induksi," ujar dokter memberi tahu kami.

Pada hari Selasa malam hingga rabu pagi tanggal 13 rasa mulas semakin sering dirasakan oleh istri. Pada siang hari kami putuskan untuk konsultasi ke dokter, satu hari sebelum jadwal.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, ternyata mulut rahim sudah sangat lunak dan telah mulai pembukaan dua.

"Ini sih sudah mau lahiran. Nanti kalian ke IGD kebidanan ya. Di sana akan dilakukan observasi oleh bidan."

"Loh, kalian belum PCR ya?" dokter yang baik hati itu agak menegur kami.

"Belum, Dok. PCR kan buat caesar. Kami kan tidak mau caesar," jawab istri saya sambil nyengir.

Dokter hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kebandelan dan keyakinan kami.

Maka pada hari itu juga dilakukan test antigen untuk memastikan kami berdua sehat.

Setelah menyelesaikan administrasi, sore hari sekira Pukul 16 istri masuk ke IGD kebidanan untuk dilakukan observasi.

Observasi saat pembukaan di bawah tiga adalah setiap 4 jam. Setelah pembukaan tiga setiap dua jam. Begitu yang saya dengar dari bidan. Pada sekira Pukul 20 berdasarkan hasil pemeriksaan, telah memasuki pembukaan tiga.

Sampai sekira mendekati tengah malam saat ketuban pecah, pembukaan tidak banyak beranjak.

Kami terus berdoa dan afirmasi agar persalinan dapat berjalan lancar dan normal. Kami pun berbicara ke bayi dalam kandungan agar kompak bekerjasama dengan mama supaya proses persalinan dapat berjalan normal dan lancar.

Tidak lebih dari tiga jam kemudian berdasar pemeriksaan, telah pembukaan delapan. Bidan cukup terkejut dengan perkembangan yang sangat cepat.

Xie Tian Zhi En, dengan bantuan dokter dan para bidan, persalinan normal—sesuai dengan harapan dan doa—akhirnya terlaksana dengan lancar. Lahirlah seorang bayi laki-laki sehat bershio Kerbau Logam yang bersifat Yin. Ibunya pun sehat. 

Tak berapa lama setelah melahirkan istri langsung berdiri dan jalan-jalan hingga membuat para bidan heran. Saya sungguh bersyukur tak banyak masalah yang terjadi selama 40 minggu kehamilan. Bagi kami saran dokter untuk caesar adalah ujian keteguhan kami. Kalau saja selama kehamilan banyak masalah, mungkin kami akan menuruti saran dokter.

Pada pagi hari tanggal 14 sekira pukul 10, dokter mengatakan besok tanggal 15 istri diperbolehkan pulang.

Esok harinya setelah hasil tes bilirubin bayi keluar, dan dinyatakan sehat, kami dan bayi diperkenankan pulang. Bilirubin bayi 8.34 ambang batas maksimal adalah 11.

Kami benar-benar bersyukur atas semua berkah ini.

Sepulang dari RS, kami menyempatkan diri mampir ke rumah tempat masa kecil saya. Diiringi hujan deras kami bersembahyang mengucapkan syukur dan terima kasih atas restu para leluhur, penyertaan para shen, dan rahmat Tian.

Kemarin malam tanggal 19 Oktober 2021 tali pusar bayi lepas (puput).

Kami berkeyakinan semua proses persalinan yang begitu lancar tak lepas dari restu leluhur, penyertaan para shen, dan rahmat Tian.

Tentu saja olahraga jalan kaki yang kami lakukan dengan intens selama hampir 3 minggu agar bayi turun ke panggul turut memperlancar.

Bersembahyang, berdoa, dan berikhtiar perlu kita lakukan sebagai umat Konghucu saat menghadapi persoalan dan kesulitan apapun.

Tak perlu mencari 'pertolongan' mukjizat dengan berpindah keyakinan agama.

Saya tuliskan proses perjuangan dan persalinan ini agar siapapun yang menghadapi persoalan tidak mudah putus asa dan menyerah. Teruslah bersembahyang, berdoa, dan berikhtiar. Mengenai hasilnya serahkan pada Ming (firman). Semua dilakukan dalam cheng (ketulusan/iman) sesuai tuntunan Nabi. 

Bila sembahyang, doa, dan ikhtiar telah dilakukan, dan ternyata apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, tak usah pula disesali. Karena itulah hal terbaik yang harus dilakukan dan dijalani. (US) 20102021  

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN