MELINDUNGI DIRI DAN SESAMA


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

"Kalian tuh terima tamu tidak sih?" tanya seorang saudara kepada isteri saya.

"Ya, kalau tamu sih mau enggak mau kita terima. Tapi kalau bayi tidak boleh dekat-dekat."

Saudara mau mengerti dan tidak berkunjung. Walau mungkin dalam hatinya bete karena mendapat jawaban seperti itu.

"WDDT tolong tanya kalau kami mau menyambangi bolehkah? Takutnya karena COVID jadi belum terima tamu," kolega kami mengirim WA beberapa hari yang lalu.

"XYYD, iya maaf karena COVID jadi kita batasi. Kakak-kakaknya Ko Uung juga dilarang datang, karena bukan apa-apa, ada baby sih. Xie-xie perhatiannya."

"Oke, baik tidak masalah. Semoga sehat selalu."

Kolega kami mau mengerti dan tidak jadi berkunjung.

"WDDT... Siang, Ko... Bayinya sehat-sehat... Sudah pulang ke rumah?" teman yang lain bertanya.

Kami telah berusaha menolak kunjungan teman kami, tapi teman kami tetap datang ke rumah.

Kami tak bisa berbuat apa-apa dan berterima kasih atas perhatian dan kebaikan hati kawan kami yang datang berkunjung, hanya kami tidak mengizinkan kawan ini untuk mendekati bayi.

Beberapa saudara tanpa memberitahu lebih dahulu datang berkunjung ke rumah kami, tentu saja kami tetap menerima dan tidak mengusir mereka, hanya kami ketat mentaati protokol kesehatan dan melarang mereka mendekati bayi.

Kalau Anda kebetulan terkena larangan kami dan tidak suka dengan apa yang kami lakukan, tolong maafkan kami.

Apakah kami benar-benar mengurung diri di rumah? Sebetulnya tidak juga. Kami tetap keluar rumah karena ada urusan yang mengharuskan kami keluar rumah, seperti misalnya ke dokter untuk memeriksa kesehatan bayi atau belanja kebutuhan yang tak bisa dibeli melalui online. Kami pun tetap keluar rumah untuk menjemur bayi dan mau tak mau berkomunikasi dengan tetangga. Tapi sekali lagi kami menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

Kami merasa turut bertanggung jawab untuk berkontribusi dalam mengakhiri pandemi. Walau penyebaran COVID-19 nampak melandai, kami merasa perlu tetap waspada dan tidak lengah.

Walau mungkin apa yang kami lakukan nampak ekstrem, tapi berdasarkan data yang dapat kita baca, penyebaran virus dapat kita putus dan akhiri saat kita benar-benar disiplin dan berani berkata tidak walau mungkin hal tersebut membuat beberapa pihak tidak suka.

Kami menunda perjalanan keluar kota atau berwisata apalagi naik pesawat atau kendaraan umum. Tak heran setelah lebih dari satu tahun pandemi COVID-19, saya baru satu kali tes antigen, yaitu saat istri akan melahirkan. Makan di luar pun kami batasi, kami menghindari makan di ruang ber-AC atau rumah makan yang ramai pengunjung.

Berwisata akan dapat dilakukan saat pandemi berlalu, makan di luar di tempat yang nyaman ber-AC pun demikian. Buat kami itu hal simpel yang berharga untuk dilakukan.

Kami lakukan untuk melindungi diri sendiri, orang-orang yang kami kasihi, dan orang lain. Hal-hal sederhana ini sebetulnya wujud cinta kasih. Cinta kasih tentang melakukan hal sederhana bukan tentang hal-hal kompleks.

Dalam Kitab Suci dikatakan Cinta Kasih Itulah Kemanusiaan. 

Saat kata-kata dan perbuatan telah satu, kita ada dalam Dao.

Libur natal dan tahun baru kami takkan kemana-mana. Kami akan diam di rumah. Itupun wujud tanggung jawab dan kontribusi kami sebagai warga negara yang baik dan sebagai manusia yang mengamalkan cinta kasih. 

Bagaimana dengan Anda? (US) 17112021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN