SUMBER


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Beberapa tahun yang lalu ketika saya beroleh kesempatan menginjak tanah kelahiran Nabi Kongzi di Qufu, di suatu tempat oleh pemandu diberitahu bahwa di tempat itulah Nabi pernah bersabda, "Semuanya mengalir pergi seperti ini. Siang malam tiada henti-hentinya." Sabda tersebut tercatat dalam Kitab Lunyu IX: 17.

Saya mencoba membayangkan suasana 2500 tahun lalu saat Nabi bersabda. Tentu sangat berbeda dengan suasana saat saya menerima penjelasan dari sang pemandu. Ketika itu Nabi bersabda di tepi sebuah sungai, tapi saya tidak melihat sungai besar di sana. Saya mencapai tempat tersebut hanya berjalan kaki tidak jauh, setelah sebelumnya diantar oleh mobil. Situasi dan kondisi yang tentu saja sangat berbeda dengan zaman Nabi Kongzi dulu.

Hati tergugah saat dari tempat Nabi dulu memandang sungai saya memandang sekitar. Ada energi magis menelisik batin, mungkin karena ada kerinduan spiritual menyapa. Di sinilah saya berada, di tempat dulu Guru Agung Sepanjang Masa menjejakkan kakinya. Kehidupan berjalan terus dengan berbagai peristiwa datang silih berganti seperti air sungai yang mengalir siang malam tiada henti-hentinya.

Nabi sering bermetafora tentang air, hikmah apakah dapat diambil dari air?
 
Mengzi mengatakan dalam Kitab Mengzi IVB: 18:
Air itu dari sumbernya keluar bergolak-golak siang malam tiada hentinya. Setelah memenuhi tempat-tempat yang lekuk lalu terus maju mengalir ke empat penjuru lautan. Hanya air yang mempunyai sumber dapat demikian. Inilah hikmah yang dapat dipetik. Tetapi air yang tidak bersumber, yang berasal dari hujan lebat pada bulan tujuh dan bulan delapan; meski dapat memenuhi saluran-saluran dan sawah-sawah, sebentar saja sudah kering pula. Ini dapat dijadikan suatu teladan. Maka kemasyhuran yang melebihi kenyataan, seorang Junzi merasa malu.


Saat saya menginjakkan kaki di rumah keluarga Meng, seolah terdengar Ya Sheng Mengzi dengan berwibawa dan percaya diri sedang berbicara serta memberi nasihat kepada raja. Saat awal saya mulai membaca dan belajar mengenai ajaran Konghucu, saya begitu kagum dengan dialektika Mengzi dan kepercayaan diri Beliau dalam mengajarkan mengenai kebajikan. Beliau dengan sangat mahir membalikkan 'logika' berpikir lawan-lawan bicaranya.

Mengzi dengan bijaksana telah menjelaskan hikmah air. Beliau mengingatkan pada kita mengenai pentingnya sumber.

Begitulah kehidupan, kehidupan dijalankan harus seperti air yang bersumber, bukan air yang berasal hujan lebat sehingga dapat membawa dampak langgeng bagi manusia atau minimal bagi keturunan. Tian telah mengaruniakan Firman dalam hati manusia berupa benih kebajikan cinta kasih kebenaran, kesusilaan dan kebijaksanaan. Itulah sumber.

Sumber 'kelanggengan' tak ada yang lain selain kebajikan watak sejati, karena hanya kebajikanlah berkenan Tian. Dengan mengembangkan kebajikan watak sejati penuh cheng (iman, tulus), akan memampukan manusia bukan saja menyempurnakan dirinya tapi menyempurnakan segenap wujud.

Sayang sekali manusia acap lupa pada sumber, lebih memilih jalan pintas. (US) 21112021


Lunyu IX: 17, Mengzi IVB: 18, Zhongyong XXIV: 3.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN