BERKABUNG 3 TAHUN? REPOT AMAT!


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Banyak terdapat ayat-ayat dalam kitab suci Ru-Konghucu mengenai perkabungan tiga tahun: untuk siapa perkabungan tiga tahun dilaksanakan, jangka waktu perkabungan tiga tahun, waktu dan persembahyangan mengakhiri perkabungan, perkabungan tiga tahun dan para raja (pemimpin) besar, alasan mengakhiri perkabungan, perkabungan tiga tahun dan jauh dekatnya kasih, perkabungan tiga tahun dalam kaitan dengan laku bakti dan lain-lain.

Setelah pada tulisan terdahulu kita membaca mengenai 'Pertanyaan Perkabungan Tiga Tahun' dalam Kitab Liji, tulisan kali ini menyajikan ayat-ayat lain mengenai perkabungan tiga tahun yang dapat kita simak minimal untuk menambah pengetahuan, syukur bila mau menjalankan dengan tulus karena mengerti mengenai hakikat perkabungan.

Mari kita simak.

Upacara perkabungan merupakan pernyataan kesedihan yang sangat. Adanya pembatasan di dalam kesedihan, itu mengikuti perubahan yang alami. Peraturan itu dibuat oleh seorang Junzi di dalam memahami awal kehadiran dirinya.
—Liji IIB Tan Gong I: 21
Nabi Kongzi bersabda, “Seorang anak sampai usia tiga tahun, baru lepas dari pelukan ayah-bunda. Perkabungan tiga tahun karenanya berlaku bagi semua dibawah langit ini.”
—Liji XXXV San Nian Wen: 15
Pada saat mula terjadi kematian, (ratapan) selama tiga hari dilaksanakan tanpa putus; selama tiga bulan tidak melepas (ikat kepala dan sabuk perkabungan); sepanjang tahun dilakukan duka cita dan ratapan/tangisan; tiga tahun dilakukan ungkapan duka cita: –––semuanya itu ialah berangsur-angsur berkurangnya keterikatan kasih. Nabi, sesuai dengan kenyataan berkurangnya perasaan kasih yang alami itu, menetapkan peraturan.

Berdasarkan pertimbangan itulah, upacara perkabungan dibatasi tiga tahun. Orang yang bijaksana tidak diperkenankan melebihi masa itu dan orang yang tidak mengerti juga tidak boleh kurang dari itu. Inilah peraturan tengah sempurna (Zhong Yong) tentang perkabungan dan itulah yang dilaksanakan oleh raja (yang bijak).
—Liji XLVI Sang Fu Si Zhi: 8-9
Zai Wo bertanya, “Masa tiga tahun berkabung itu apakah tidak terlalu lama?”

Seorang Junzi bila selama tiga tahun tidak mempratikkan adat istiadat, niscaya rusaklah kebiasaannya yang baik itu. Bila tiga tahun tidak menabuh alat musiknya, niscaya hilanglah kepandaiannya.

Dalam setahun, hasil bumi yang lama sudah habis, hasil bumi baru menggantikannya; kayu-kayu untuk bahan bakar pun sudah empat kali berganti-ganti jenisnya. Bukankah setahun itu sudah cukup?”

Nabi membalas bertanya, “Dalam jangka waktu yang sedemikian itu, dapatkah kamu merasa enak memakan nasi yang putih dan mengenakan pakaian yang bersulam?”
 
Zai Wo menjawab, “Dapat!”

“Kalau engkau dapat merasa enak, kerjakan! Seorang Junzi melakukan berkabung karena makan apapun tidak enak, mendengarkan musik pun tidak dapat merasa gembira, berdiam di mana pun tidak merasa enak; itulah mengapa ia melakukannya. Sekarang kamu sudah dapat merasa enak, kerjakan!”

Setelah Zai Wo keluar, Nabi bersabda pula, “Yu sungguh tidak berperi Cinta Kasih. Anak lahir setelah tiga tahun barulah dapat lepas dari asuhan ayah bundanya, maka berkabung tiga tahun sudah teradatkan di dunia. Mungkinkah Yu tidak mendapatkan cinta orang tuanya selama tiga tahun?”
—Lunyu XVII: 21
Nabi bersabda, “Pada saat orang tua masih hidup, amati cita-citanya; setelah orang tua meninggal dunia, amati perbuatannya. Bila selama tiga tahun tidak mengubah dao orang tua, boleh disebut seorang anak berbakti.”
—Lunyu I: 11
Ada seorang Negeri Lu setelah pagi hari melaksanakan upacara penggenapan perkabungan (setelah berkabung 25 bulan dan melakukan sembahyang Da Xiang) ia mulai bernyanyi petang harinya. 

Zilu menertawakan orang itu, tetapi Nabi bersabda, “You, adakah engkau belum pernah mendapati orang yang berbuat salah? Melakukan perkabungan selama tiga tahun sungguh lama.” 

Setelah Zilu pergi, Nabi bersabda, “Adakah ia harus masih menanti lama? Bulan depan kiranya jauh lebih baik.”
—Liji IIA Tan Gong I: 16
Setelah upacara sembahyang Tan, pada akhir bulan ke-27, (anak laki-laki) mengikuti segala kegiatan; dan setelah upacara sembahyang bahagia (Ji Ji), (papan-papan nama leluhur dihimpun kembali ke Miao leluhur), ia kembali ke kamarnya yang lazim.
—Liji XIX Sang Da Ji B: 20

Setelah kita simak, marilah kita renungkan apakah upacara perkabungan tiga tahun cukup penting bagi kita sebagai manusia ataukah kita tinggalkan karena kita anggap tidak praktis dan tidak sesuai zaman? (US)

Postingan populer dari blog ini

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

MEMASUKKAN MUTIARA PADA JENAZAH

HAID BOLEHKAH BERSEMBAHYANG?